Bobo Fair yang Menambah Wawasan Anak

6 Jul 2009

Minggu, 5 Juli 2009, tepat hari terakhir acara Bobo Fair di JCC, Senayan, Jakarta. Acara yang mungkin ditunggu-tunggu oleh banyak anak. Ya, sudah dipublikasikan jauh-jauh hari sebelumnya di majalah Bobo, dan juga berbagai media cetak lainnya, membuat anak saya merayu orang tuanya untuk membawanya berkunjung ke sana. Memang, tidak semua anak bisa masuk dengan mudah, karena setiap anak yang berumur lebih dari 2 tahun diharuskan membayar tiket masuk sebesar Rp. 10.000,-. Terkesan masih hal yang cukup mahal bagi sebagian kaum orang tua yang berpenghasilan rendah.

Setelah sampai di parkir kendaraan, saya dan keluarga bergegas membeli tiket untuk memasuki arena event. Ternyata yang namanya calo tiket juga ada di event ini. Mereka menawarkan tiket pertunjukan opera yang harga tiket resminya paling murah seharga Rp. 100.000,- ! Karena memang tujuan kami bukan untuk menonton opera, maka kami bergegas meninggalkan sang calo tiket. Kami menuju loket pembelian tiket untuk masuk event pameran.

Setelah memasuki arena event, kami menuju ke bagian demo teknologi yang ditampilkan secara sederhana agar mudah dicerna oleh anak-anak. Anak saya sempat mencobai beberapa alat peraga dan merasakan efek yang dihasilkan oleh alat peraga tersebut. Anak kami juga sempat mencobai teropong yang mungkin baru pertama kali dicobainya. Sungguh, mungkin pengalaman yang saya rasakan akan sangat menggugah minat anak terhadap berbagai perangkat teknologi yang telah ada.

Dari stand demo teknologi, kami beranjak ke stand Kompas Gramedia grup. Memang sudah dari sananya suka buku, begitu melihat buku anak-anak terutama buku cerita, anak saya lanjut sibuk mengambil buku dari rak dan langsung membacanya. Tinggal kami, orang tuanya menunggunya sambil berdiri terbengong-bengong. Tapi bengongnya kami ternyata tidak dibiarkan lama. Seorang pramuniaga, kira-kira masih mahasiswi, menawarkan kami untuk berlangganan majalah Bobo. Memang saat itu kami belum berlangganan majalah Bobo yang tiap minggu dibeli secara eceran, jadi saat ditawarkan oleh pramuniaga tersebut akhirnya saya memutuskan untuk menerima tawarannya. Lumayan, berlangganan 3 bulan alias 13 edisi, kita mendapatkan sebuah kaus anak dan juga aneka hadiah-hadiah gift kecil lainnya.

Sudah hampir 15 menit, anak kami menghabiskan waktu di stand Bobo, akhirnya kami mengajaknya berpindah ke stand lainnya untuk melihat hal-hal lain yang ada. Setelah membeli sebuah paket kecil berisi pop-corn dan sebotol Aqua kecil, anak kami melihat di arena event ada stand 4 dimensi. Segera anak kami merajuk minta dibelikan tiket untuk menonton pertunjukkan 4 dimensi yang akan diputar sebentar lagi. Tak mau mengecewakan anak, dan juga sudah jauh-jauh datang ke event ini, saya membelikannya tiket teater 4 dimensi tersebut. Film berdurasi 15 menit tersebut memang membuat takjub banyak anak, termasuk anak kami. Kata anak saya setelah selesai menonton: wah asyik sekali pertunjukkannya, pi, mi.

Selepas menonton, kami berpindah ke stand berikutnya, namun karena hari sudah menunjukkan pukul 2 siang, kami memutuskan untuk makan siang terlebih dulu. Setelah menyantap makan siang, kami berkunjung ke stand lukisan dan belajar menghias kue. Untuk melukis, sang anak ditawari 2 pilihan yaitu mewarnai di atas kertas atau di atas kendi kecil. Karena belum pernah melukis di atas kendi, maka anak kami tampak tertarik untuk melukis di atas kendi kecil, maka kami merogoh saku lagi untuk membeli tiket untuk melukis/ mewarnai. Maka, tak lama kemudian, mulailah anak kami berkreasi dan bereksplorasi dengan melukis/ mewarnai kendi kecil tersebut. Setelah hampir setengah jam berkreasi, tampaklah raut wajah anak kami yang mulai lelah dan sedikit bosan, namun dia tampak bahagia/ kagum ketika melihat hasil karyanya sendiri dan dengan bangga menunjukkannya kepada orang tuanya, yakni kami. Tak lupa kami juga memberikan pujian untuk menumbuhkan semangatnya, tentunya.

Ketika hari sudah menjelang sore, kami memutuskan akan pulang. Namun lagi-lagi mata kami tertuju pada hal yang menarik minat anak, yakni mainan dalam merangkai robot-robotan. Bukan sembarang robot yang dirangkai. Memang ada robot-robot yang sederhana, yakni yang digerakkan oleh tangan, tetapi juga ada yang digerakkan dengan menanamkan sirkuit computer, sehingga robot tersebut tampak pintar. Stand ini juga menawarkan aneka kelas untuk belajar merakit robot. Cukup murah, ada paket yang menawarkan seharga Rp. 150.000,- untuk 4x pertemuan @ 90 menit.

Di stand robot ini juga disediakan material-material robot yang bisa dicobai oleh pengunjung. Kebetulan terdapat sebuah meja kosong yang telah ada material-material robotnya. Maka akhirnya saya menemani anak saya mencoba merangkai sebuah robot mekanik sederhana, yakni sebuah kincir angin. Pelan tapi pasti, dan tampak sedikit bingung dengan aneka bentuk material pembentuk robot, akhirnya anak kami berhasil merangkai sebuah kincir angin. Mulanya kincir angin agak sulit diputar dengan tangan, namun dengan sedikit bantuan dari penjaga stand, akhirnya kincir angin tersebut dapat berputar dengan bebasnya. Memang ada satu kesalahan dalam penggunaan material robot, tapi ini sudah merupakan hal yang membanggakan bagi kami, akhirnya anak kami bisa menyelesaikan sebuah pembelajaran dalam merangkai robot. Sungguh suatu pengalaman yang berharga.

Pada stand robot inilah kami mengakhiri kunjungan kami. Ternyata untuk tiket masuk seharga Rp. 10.000,- memang cukup sebanding dengan apa yang didapatkan oleh anak kami. Apakah masih cukup mahal ? Silakan Anda menilainya secara objektif. Selamat membaca.


TAGS Bobo Fair 2009


-

Author

Follow Me