Jangan Menjadi Kelompok Karyawan Beracun

9 Jul 2009

Bagi sebagian kita yang berprofesi sebagai karyawan, sadar atau tidak bahwa di sekeliling kita selain tugas dari perusahaan, ternyata banyak hal yang memberi kita pendidikan dan pengaruh bagi perkembangan psikologi kita.

Bayangkan bila kita berada di dunia kerja yang semuanya bekerja bagai mesin, tentu di sana kita akan mengalami tekanan-tekanan kejiwaan yang bertentangan dengan takdir kita sebagai mahluk sosial, yakni berkelompok dan saling menyokong dalam mencapai tujuan. Tiba-tiba kita berada di dalam dunia yang terasing satu dengan lainnya, seolah-olah kita berada di hutan belantara seorang diri.

Tentu kita akan berusaha mencari suatu perubahan yang dapat mendukung hakekat kita sebagai makluk sosial ini. Oleh karena itu, sebagian karyawan akan melakukan asimilasi dengan karyawan lainnya setelah lepas jam kerja ataupun saat beristirahat makan siang. Proses asimilasi yang tentunya termasuk proses interaksi yang sekaligus terjadi pula proses pertukaran pemikiran ini menjadi bagian yang tak terpisahkan. Dari proses pertukaran pemikiran inilah akan timbul 2 kubu yang bertolak belakang, yakni kubu yang memberi pengaruh dan menerima pengaruh.

Sebagai kubu pemberi pengaruh, tentunya apapun yang diberikan sebagai pengaruh, tidak semuanya bisa dilihat baik dan cocok bagi semua pihak. Seringkali pengaruh yang diberikan yang tidak disikapi dengan arif, akan melahirkan pembutaan diri terhadap kondisi yang sebenarnya bertolak belakang dengan apa yang diutarakan oleh si pemberi pengaruh. Seringkali sang pemberi pengaruh mungkin tidak memikirkan akibat/ efek samping dari pendapat/pengaruhnya terhadap kubu penerima pengaruh. Atau memang si pemberi pengaruh punya maksud-maksud tertentu guna menguntungkan diri sendiri atau kelompoknya. Mereka ini juga umumnya kelompok yang tidak berani bertanggung jawab bila terjadi suatu kekacauan akibat pengaruh yang diberikan. Mereka seringkali mencuci tangan guna menutupi keburukan yang telah mereka timbulkan. Kubu kelompok inilah yang sering disebut sebagai kelompok karyawan beracun (toxic employee).

Toxic employee inilah yang seringkali membuat pusing perusahaan dalam mengelola aset sumber manusia yang ada. Akibat yang ditimbulkan adalah biaya rekrutment menjadi membengkak karena tingkat pengunduran yang tinggi dari karyawan yang pernah bergabung. Perusahaan seharusnya senantiasa mencari tahu di mana terdapat karyawan beracun yang bisa menganggu stabilitas kerja karyawan di perusahaan dan berusaha untuk mengawasi dan mengisolir karyawan tersebut agar pengaruh buruk yang diberikan tidak meluas.

Selain dengan memberi pengaruh, apalagi sih yang bisa membuat seorang karyawan dikelompokkan sebagai toxic employee ? Ternyata bukan hanya dengan menggunakan tindakan aktif, tetapi juga menggunakan tindakan pasif. Apa itu tindakan pasif ? Seorang karyawan yang menguasai suatu bidang pekerjaan, namun tidak pernah membagikan pengetahuannya ini tentu bisa dikatakan sebagai toxic employee dengan menggunakan cara pasif.

Bagaimana bisa demikian ? Ya, dari sisi kubu karyawan yang menerima pengaruh, tentunya sikap si toxic employee pasif ini akan menyebabkan rasa frustrasi bagi si karyawan tersebut karena seharusnya pengetahuan yang bisa dibagikan ternyata hanya disimpan si toxic employee sampai si toxic employee ini mengundurkan diri ataupun pensiun dari perusahaan. Tentunya bila saat tersebut tiba, akan menjadi suatu kehilangan besar bagi si penerima pengaruh karena akan kehilangan pegangan/ topangan. Akibat selanjutnya adalah beban biaya tambahan bagi perusahaan karena perlu adanya pengadaan external training yang tentunya memakan biaya lebih tinggi dibandingkan dengan internal training yang bisa diberikan.

Di sinilah peran perusahaan yang perlu secara aktif mengantisipasi pengaruh dari toxic employee jenis pasif ini. Janganlah perusahaan terlambat melakukan langkah-langkah antisipasi yang bisa mengakibatkan penyesalan di kemudian hari.

Bagi kita yang memang tidak ingin menjadi toxic employee, apa sih sikap kita bila suatu hal yang menjadi ganjaran bagi kita terjadi pada diri kita ? Seharusnya kita berkonsultasi dengan bagian HR Department yang memang disediakan oleh perusahaan untuk menampung keluh kesah dari karyawan.

Bagi kita yang memang sudah menyadari bahwa kita memiliki benih-benih potensi sebagai toxic employee, maka sebisa mungkin kita mulai merubah cara pikir yang bisa mempengaruhi rekan kerja yang lain. Jangan sampai kita tertangkap sebagai seorang toxic employee, yang tentunya efeknya adalah bisa menghambat karir di dunia kerja.

Selamat membaca, semoga bermanfaat.


TAGS Toxic Employee karyawan beracun perusahaan


-

Author

Follow Me