TTM (Tua Tapi Muda)

13 Jul 2009

Hi sobat pembaca,

TTM ini bukan cuma buat lagunya Dewi, yaitu yang berjudul Teman Tapi Mesra loh. Judul posting di atas memang saya angkat berkat inspirasi dari buku yang saya baca di Gramedia.

Sang penulis buku menuturkan bagaimana pentingnya kita mempersiapkan masa tua kita, tetapi yang disiapkan disini bukan dari sisi lahiriah, tapi dari sisi batiniah. Ingat loh, setiap orang bakal menjadi tua bila waktunya tiba. Saya rasa, walaupun apa yang disampaikan sang penulis adalah lebih tepat diperuntukkan bagi yang telah berusia lanjut (umur si penulis sendiri sekitar 80-an), tapi saya rasa cukup bermanfaat buat kita-kita yang masih muda (sekalipun mungkin tidak muda amat). Tapi saya tidak ingin melarang Anda pembaca sekalian yang mungkin merasa telah tua dalam umur, bisa memetik pelajaran dari apa yang dituturkan si penulis juga.

Baik, mari saya mulai dengan sebuah pertanyaan yang diajukan oleh si penulis, yakni apakah kita yang telah masuk kategori manula (mungkin termasuk orang dewasa) tidak boleh bertingkah laku seperti anak-anak ? Jelas sekali, jika penulis mengatakan TIDAK. Kok bisa penulis mengatakan demikian ?

Begini ceritanya, penulis mengatakan kalau seseorang telah merasa dirinya sudah tua dan sudah harus memaksa dirinya mengontrol diri dalam bersikap, sehingga harus mengorbankan “masa anak-anak” yang penuh dengan tawa keceriaan, maka ketuaannya akan memperpendek umurnya. Mengapa demikian ? Ternyata, unsur pemaksaan diri untuk merubah jiwa bermain yang telah diwarisi seseorang dari masa kanak-kanaknya, tidak bisa diterima sepenuhnya oleh jiwa manusia. Bila hal ini terjadi terus-menerus, maka efeknya adalah makin pudarnya semangat untuk hidup bagi orang tersebut, yang sudah sepatutnya dihindari.

Memang, masa tua/ pensiun diidentikkan dengan masa untuk istirahat. Tapi jangan gunakan alasan tersebut untuk mengalokasikan seluruh masa tua/pensiun dengan beristirahat total dari segala aktifitas. Disarankan, bahwa otak kita harus terus dipacu untuk berpikir dan berpikir (tentunya ya tetap harus diselingi istirahat seperti biasanya), sehingga hal ini akan memacu “mesin” otak tetap bekerja yang tentunya mencegah kita dari kepikunan (lemot, alias lemah otak).

Menurut penulis, masa tua bukan masa yang bagi sebagian orang adalah masa menunggu kematian, tapi di masa inilah bagi sebagian kecil orang adalah masa keemasan dari kehidupan mereka yang juga bisa berbuat sesuatu bagi kehidupan umat manusia. Dituturkan pula bahwa banyak ilmuwan atau filsuf yang melahirkan pemikiran hebat mereka setelah umur mereka berada di rentang 60 hingga 80 tahun (mungkin ada benarnya ya, sudah mengecap banyak pengalamanan hidup dan eksperimen/ kegagalan).

Sikap terlalu serius oleh kalangan tua juga sebaiknya dihindarkan. Terlalu serius di masa tua bukanlah hal yang tepat. Mengapa demikian ? Tentunya adalah efek berkelanjutan yang ditimbulkannya, yakni stres yang akan menghampiri hidup mereka, bila terlalu serius di usia tua. Jadi harus bagaimana ? Ya, disini perlunya sikap anak-anak dimunculkan kembali di kala usia tua mulai menghadang. Sikap apa ya dari anak-anak yang perlu ditimbulkan kembali ? Bermain dan bercanda !

Ya, bermain dan bercandalah dengan teman sejawat/ seusia sesering mungkin, guna membantu mengendurkan ketegangan urat saraf yang bagi kaum tua adalah organ tubuh yang paling sering mengalami gangguan. Adapun cara lainnya adalah menonton televisi. Dengan adanya televisi di masa sekarang, banyak sekali acara-acara yang bisa mengendorkan urat saraf, terutama acara-acara humor atau pun berita-berita lucu/ menggelikan.

Dari saya sendiri, tampaknya hal-hal yang diutarakan oleh sang penulis mengenai masalah ketuaan, bukan hanya diperuntukkan bagi orang yang telah berusia tua, tapi bagi kaum dewasa yang telah merasa dirinya sudah tua, yang sebaiknya tetap merasa diri berjiwa muda. Marilah, sekali-kali bersikaplah seperti saat kita masih kanak-kanak !

Mari berjiwa muda !


TAGS tua muda anak-anak stres jiwa


-

Author

Follow Me