“Tamparan Sang Romo”

22 Mar 2010

Ternyata apa yang disampaikan oleh Romo pada hari Minggu pagi, 21 Maret 2010 seolah-olah bagai anak panah yang meluncur tepat ke sasaran. Umat bagai ditelanjangi terhadap berbagai perilaku/ kesombongan dirinya yang telah mendarah-daging pada setiap diri manusia yang pada hakekatnya adalah turunan Adam dan Hawa yang sebagai manusia pertama telah jatuh ke dalam dosa.

Tidak berpanjang lebar, sang Romo mengutarakan inti dari siraman rohaninya pada minggu pagi tersebut, yakni mengajak kita untuk tidak terlalu tenggelam terhadap dogma/aturan ajaran yang telah lama, melainkan berpaling terhadap segala hal yang ada di depan mata. Yang lalu biarlah berlalu dan jangan gunakan itu sebagai batu pijakan kita semata-mata, karena selain yang telah terjadi yang sudah menjadi pengalaman bagi kita, namun kondisi hari ini dan hari yang akan datang ada kemungkinan tidak sama dengan yang sudah kita alami. Jadi berhati-hatilah, tidak akan selalu sama yang telah terjadi dengan yang akan terjadi. Pada intinya, Romo berpesan, jangan kita mengeneralisasikan segala sesuatu yang terjadi, karena itu adalah salah satu bentuk cikal-bakal timbulnya keangkuhan diri pada manusia.

Setelah menyinggung dasar dari timbulnya keangkuhan diri, sang Romo mulai memberikan sindiran-sindiran yang menurut pandangan saya, menelanjangi sisi ke-ego-an pada diri manusia, yaitu bagaimana kita menyikapi berbagai bentuk kesalahan-kesalahan yang timbul, yang menurut pandangan masing-masing orang, bahwa kesalahan tersebut timbul bukan karena akibat kelalaian diri kita sendiri, namun semata-mata dikarenakan orang lain, padahal tanpa kita sadari kesalahan tersebut timbul dikarenakan kurangnya perhatian yang kita berikan kepada penyebab timbulnya kesalahan tersebut. Betapa naifnya kita ! Menyalahkan orang lain, padahal kita sendiri adalah biang kesalahan tersebut !

Lalu, apa yang harus kita lakukan sebagai tindakan preventif yang efektif ? Dan apa yang harus kita lakukan guna menyikapi kesalahan yang telah timbul ? Mari kita meningkatkan kewaspadaan dan perhatian kita terhadap tanda-tanda kemungkinan akan terjadinya kesalahan. Kita sebagai manusia, yang dikaruniai kemampuan insting dan intuisi yang baik, hendaknya tidak berpangku tangan hanya menyaksikan sesuatu telah mengarah ke arah yang salah, namun bergegaslah untuk memberikan suatu perubahan terhadap hal tersebut, sehingga kesalahan yang akan timbul dapat dicegah sedini mungkin.

Setiap kesalahan yang telah timbul, juga janganlah membuat kita tenggelam kepada dunia siapa yang salah, siapa yang benar. Ada kalanya timbulnya kesalahan, akan membuat kita semakin giat untuk melakukan introspeksi diri atas kelalaian ataupun ketidakpedulian kita terhadap tanda-tanda akan timbulnya kesalahan tersebut. Sadarilah bahwa kesalahan itu adalah salah satu bentuk proses pembelajaran yang terus menerus harus dilakukan oleh manusia. Satu pesan dari Romo, jangan pernah menyerah terhadap kesalahan !


TAGS introspeksi proses benah bijaksana cegah intuisi


-

Author

Follow Me